Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Abu Nawas Memenjarakan Angin



 Zetsu13.site- kisah Abu nawas Memenjarakan Angin


         Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalu memanggil Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yang aneh-aneh. Hari ini Abu Nawas juga dipanggil ke istana. Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu N a w a s den ga n senyuman. "Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku aku kena serangan angin." kata Baginda Raja memulai pembicaraan. "Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba akukan hingga hamba dipanggil. tanya Abu Nawas.

        "Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya kata Baginda. Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar- benar angin. tidak bisa Karena angin dilihat.

        Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat Sedangkan angin tidak Baginda hanya memberiAbu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena sudah mérupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. Ia yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadap Dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya Tetapi sudah dua hari iniAbu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar-benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap Mungkin sudah takdir, kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda. la berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu in itu tidak terlihat?" Abu Nawas bertanya Bukankah epada diri sendiri. la berjingkrak girang dan segera berlari pulang.

Sesampai di rumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian menuju Di pintu gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, haiAbu Nawas?" Sudah Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu. Baginda menimang-nimang botolitu Mana angin itu, haiAbu Nawas?" tanya Baginda Di dalam, Tuanku yang mulia." jawab Abu Nawas penuh takzim Baginda Raja Aku tak melihat apa-apa." kata tak bisa dilihat, tetapi bila Ampun Tuanku, memang angin terlebih Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka dahulu." kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka Baginda mencium bau busuk. Bau kentut yang begitu menyengat hidung. tanya Baginda marah. apa ini, hai Abu Nawas?!" angin dan Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang hamba asukkan ke dalam botol. Karena hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut ketakutan jadi marah karena penjelasan Abu Tetapi Baginda tidak kesekian masuk akal. Dan untuk kesekian kali abu Nawas selamat.
irhan hisyam
irhan hisyam Perkenalkan guys nama saya irhan hisyam suka nonton film dan bermain game tapi untuk saat ini fokus buat kebahagiakan orang tua :)

Posting Komentar untuk "Kisah Abu Nawas Memenjarakan Angin"